Opini – Milenialtoday.com – Konsep Society 5.0 pertama kali diperkenalkan oleh pemerintah Jepang sebagai visi masyarakat masa depan yang berpusat pada manusia (human-centered society) dengan memanfaatkan teknologi canggih seperti Artificial Intelligence (AI), Internet of Things (IoT), dan big data. Berbeda dengan Revolusi Industri 4.0 yang menekankan otomatisasi, Society 5.0 menempatkan manusia sebagai subjek utama yang mengendalikan teknologi untuk kesejahteraan bersama.
Dalam konteks pendidikan, termasuk pendidikan Islam, konsep ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar. Pendidikan tidak lagi sekadar proses transfer ilmu, tetapi juga harus mampu membentuk manusia yang adaptif, kritis, dan berakhlak di tengah arus digitalisasi. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu merespons perkembangan ini secara serius agar tidak tertinggal dalam dinamika global.
Transformasi Pendidikan Islam dalam Era Society 5.0
Society 5.0 menuntut adanya integrasi antara teknologi dan kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam dunia pendidikan, hal ini tercermin pada penggunaan AI untuk pembelajaran adaptif, sistem digital berbasis data, serta pemanfaatan platform daring sebagai media utama pembelajaran.
Pendidikan Islam, yang selama ini identik dengan pendekatan tradisional, perlu melakukan transformasi agar tetap relevan. Transformasi tersebut tidak berarti meninggalkan nilai-nilai dasar, tetapi mengembangkan metode pembelajaran yang lebih inovatif dan kontekstual. Misalnya, penggunaan aplikasi AI untuk membantu pembelajaran Al-Qur’an, pengembangan media dakwah digital, hingga pemanfaatan platform e-learning untuk memperluas akses pendidikan.

UNESCO (2023) menyebutkan bahwa teknologi digital dapat meningkatkan kualitas pembelajaran jika digunakan secara tepat, terutama dalam menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal dan interaktif. Dalam hal ini, pendidikan Islam memiliki peluang untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana memperkuat pemahaman keislaman peserta didik.
Namun demikian, transformasi ini juga menuntut perubahan paradigma. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, melainkan fasilitator yang membimbing peserta didik dalam mengakses dan mengolah informasi. Hal ini menjadi penting agar pendidikan Islam tidak hanya menghasilkan individu yang paham agama, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Tantangan Sosial, Kebijakan, dan Kesiapan Sumber Daya
Meskipun menawarkan berbagai peluang, penerapan konsep Society 5.0 dalam pendidikan Islam tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah kesiapan sumber daya manusia. Banyak pendidik yang belum memiliki kompetensi digital yang memadai untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran.
OECD (2021) menegaskan bahwa literasi digital guru merupakan faktor kunci dalam keberhasilan transformasi pendidikan. Tanpa dukungan pelatihan dan pengembangan profesional, teknologi yang tersedia tidak akan dimanfaatkan secara optimal.
Selain itu, kesenjangan infrastruktur juga menjadi masalah yang cukup serius. Tidak semua lembaga pendidikan Islam memiliki akses terhadap teknologi yang memadai. Hal ini berpotensi menciptakan kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan.
Dari sisi sosial, masyarakat juga menghadapi dilema dalam menerima teknologi. Di satu sisi, teknologi memberikan kemudahan dan akses yang luas. Namun di sisi lain, terdapat kekhawatiran terhadap dampak negatif, seperti berkurangnya interaksi sosial, penyebaran informasi yang tidak valid, serta potensi melemahnya nilai-nilai moral.
Dalam konteks kebijakan, pemerintah memiliki peran strategis dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung transformasi digital. World Bank (2022) menekankan pentingnya kebijakan yang adaptif, termasuk penyediaan infrastruktur, pelatihan tenaga pendidik, serta regulasi yang mengatur penggunaan teknologi secara etis.
Integrasi Nilai Islam dalam Masyarakat Digital
Salah satu tantangan terbesar dalam era Society 5.0 adalah menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam hal ini, pendidikan Islam memiliki peran penting sebagai penjaga nilai moral dan spiritual.
AI dan teknologi digital pada dasarnya bersifat netral. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, dan etika dalam penggunaan teknologi.
Pemanfaatan teknologi dalam pendidikan Islam dapat diarahkan pada penguatan nilai, misalnya melalui konten pembelajaran berbasis akhlak, dakwah digital yang moderat, serta penggunaan media sosial sebagai sarana edukasi keislaman. Dengan pendekatan ini, teknologi tidak hanya menjadi alat, tetapi juga sarana untuk memperkuat identitas dan karakter peserta didik.
Selain itu, peran guru tetap tidak tergantikan dalam membentuk kepribadian siswa. Interaksi langsung, keteladanan, dan pembinaan akhlak merupakan aspek yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh teknologi. Oleh karena itu, integrasi antara teknologi dan nilai menjadi kunci utama dalam menghadapi era Society 5.0.













